Menyoal Akurasi Berita

Pengantar

16124112 1849462725311040 7409979399295991808 n 150x150 - Menyoal Akurasi BeritaBagi kalangan jurnalis (wartawan), akurasi merupakan faktor sangat penting yang harus diperhatikan.  Seperti dikemukakan Sarah Niblock (2005:100), “Accuracy is not only legal and ethic reason, but also protect the integrity of the newspaper and the reporter team”.   Dengan demikian, pemenuhan syarat akurasi bagi wartawan dan juga media, bukan hanya untuk memenuhi ketentuan hukum maupun etika, tapi lebih penting dari itu, untuk melindungi profesi mereka sendiri.

Jurnalis yang mengabaikan akurasi sama saja dengan melakukan pelecehan terhadap integritas profesi mereka sendiri,  karena akan menghilangkan kredibilitas mereka di mata khalayak. Seperti dikemukan Irvin (dalam Fleming dkk, 2006:50), “In news reporting credibility is everything it is easy  to lose and difficult to get back. Inaccuracies  will lose you credibility and readers faster than anything else. They may also cost you a lot  of money”.  Semua wartawan sangat meyakini hal ini, bahwa kredibilitas itu gampang sekali lenyap dan sulit memulihkannya. Yang paling cepat melenyapkan kredibilitas adalah ketidakakuratan.

Bagaimana  Akurasi Itu?

Kata “akurat” secara harfiah berarti “tepat”. Akurasi berarti ketepatan. Di kalangan wartawan, ketentuan tentang akurasi ini tertuang dalam Pasal 1 Kode Etik Jurnalistik. Menurut penafsiran Kode Etik Jurnalistik  Pasal 1b,  “akurat”  adalah “dipercaya benar sesuai keadaan objektif ketika peristiwa terjadi” (Dewan Pers, 2008:47).  Dengan demikian, penyampaian berita maupun opini oleh wartawan harus sesuai fakta yang sesungguhnya. Untuk mendapatkan fakta yang benar tidak mudah, sehingga diperlukan usaha sungguh-sungguh dalam menggali fakta dari setiap sumber berita yang relevan.

Misalnya,  dalam meliput suatu peristiwa, yang pertama harus dilakukan  adalah membuktikan benar telah terjadi suatu peristiwa yang dimaksud. Dia harus yakin bahwa peristiwa itu benar adanya dan bukan hasil rekayasa.  Peristiwa reka ulang, jelas tidak sama dengan peristiwa sebenarnya,  karena sudah mengalami penafsiran, sehingga  fakta hasil reka ulang sudah mengalami erosi (pengurangan) atau distorsi (penambahan) dari pembuat reka ulang itu.

Pedoman wartawan dalam meliput fakta  sangat sederhana, hanya berupa pertanyaan “5W+1H”. Tapi untuk memperoleh jawaban atas pertanyan “What, Who, Where, When, Why, dan How” tidak semua wartawan mampu melakukannya.  Maka, ketika menyaksikan peristiwa, wartawan tidak boleh hanya puas memperoleh  fakta tentang: “apa yang terjadi” dan  “siapa saja yang terlibat dalam peristiwa itu”, tapi  juga harus mampu mengetahui “apa yang sesungguhnya terjadi” dan “siapa saja  di balik kejadian itu?”.  Wartawan harus juga mencatat secara cermat “dimana dan kapan” peristiwa itu terjadi.

Kadang untuk mencari fakta tentang “apa dan siapa”  tersebut cukup mudah, tapi kadang memerlukan kerja keras untuk mendapatkannya. Contoh dalam “kasus pelesiran Gayus ke luar negeri”, wartawan sampai saat ini belum berhasil mengungkap fakta “apa saja yang dilakukan Gayus di luar negeri dan siapa saja yang ikut membantu Gayus sampai ke sana?”

Dalam meliput peristiwa, wartawan tidak boleh berhenti pada pertanyaan “apa, siapa, dimana, dan kapan”, tapi dia juga  harus mengetahui secara detail “bagaimana” proses sebelum peristiwa terjadi, proses berlangsungnya peristiwa, dan bagaimana kelanjutan peristiwa itu. Juga tak kalah penting,  harus mampu mengungkap  penyebab (latar belakang) “sesungguhnya” sehingga peristiwa itu terjadi.

Menemukan latar belakang peristiwa ini tidak mudah,  sehingga memerlukan ketelatenan wartawan dalam mengungkapkannya. Kadang di balik peristiwa  yang terlihat biasa akan ditemukan fakta yang luar biasa. Misalnya di balik peristiwa kecelakaan beruntun yang disebabkan  oleh   adanya mobil mengerem mendadak, sebenarnya karena adanya struktur jalan yang keliru sehingga (dalam kondisi tertentu) bisa menyebabkan sopir yang lengah akan  mengerem mendadak.  Begitu juga pada peristiwa kerusuhan, kadang di balik kerusuhan yang terjadi akibat masalah sepele “saling ejek”, ternyata penyebab sebenarnya adalah karena adanya dendam turun-temurun, yang hanya menunggu  “pemicu kecil”  akan terjadi ledakan besar.

Pengungkapan latar belakang tersebut akan lebih sulit jika peristiwa terjadi itu karena dirancang oleh manusia. Contoh paling spektakuler tercatat dalam sejarah jurnalistik adalah “Peristiwa Watergate”.  Peristiwa tersebut awalnya terlihat seperti peristiwa biasa, yaitu lima pencuri tertangkap memasuki kantor Komite Nasional Partai Demokrat di gedung Watergate Washington DC, 16 Juni 1972.  Kisah itu akan berakhir menjadi berita kriminal biasa, seandainya tidak ada dua wartawan Washington Post,  Bob Woodward dan Carl Bernstein yang menemukan adanya kaitan hubungan pencuri itu dengan Presiden Richard Nixon. Berkat kerja keras dua wartawan tersebut bisa dibuktikan,  peristiwa pencurian itu  dilakukan untuk menyadap percakapan politisi Partai Demokrat yang dilakukan oleh Tim Sukses Presiden Nixon.

Untuk mendapatkan fakta pendapat jauh lebih sulit. Pertama harus dilakukan wartawan adalah mencari nara sumber yang memenuhi syarat “kompeten dan kredibel” untuk diminta pendapat/keterangannya. Kedua syarat tersebut harus terpenuhi, karena kalau sumber itu hanya kompeten tapi tidak kredibel, pasti tidak akan menyampaikan fakta  yang akurat. Dia cenderung akan menutupi atau bahkan membelokkan fakta yang dia ketahui. Begitu juga kalau sumber itu hanya kredibel tapi tidak kompeten, tentu fakta yang dia sampaikan  hanya sebatas yang dia ketahui, yang tentu tidak lengkap bahkan keliru.

Mencari sumber berita yang memenuhi syarat kompeten dan kredibel tidaklah mudah. Apalagi untuk memenuhi target pemberitaan yang harus disiarkan segera.  Mungkin karena alasan inilah maka TV-One pernah “tergoda” merekayasa sumber berita yang seolah-olah kompeten. TV-One dalam siaran dialog tanggal 24 Maret 2010 mewawancara langsung Andris Ronald sebagai “makelar kasus”, namun belakangan terbukti,  Andris tersebut hanyalah “makelar kasus palsu” (www. okezone.com, 9 April 2010).

Meliput fakta pendapat memerlukan ketelitian ekstra. Wartawan tidak boleh merasa cukup hanya mencatat “apa yang diucapkan” oleh nara sumber, tapi harus memahami “apa maksud” ucapannya itu.  Juga harus diselidiki “apakah yang diucapkannya itu benar adanya?”.  Begitu juga ketika mencatat tentang  “siapa”, wartawan tidak cukup hanya mengetahui tentang nama, usia, jabatan, pendidikan, dan atribut lain tentang nara sumber, tapi harus tahu “sumber ini bicara sebagai siapa?”. Apakah dia mewakili pribadi, mewakili organisasi/instansi, atau sebagai calon legislatif yang sedang merebut simpati khalayak?.

“Dimana” dan “kapan” nara sumber tersebut menyampaikan pendapatnya juga penting diperhatikan. Apakah sumber menyampaikan pernyataannya itu di Gedung Parlemen ketika menyampaikan pidato menjelang tahun baru, di ruang pertemuan saat konferensi pers, di restoran ketika diwawancara khusus oleh wartawan, atau di ruang sidang pengadilan ketika bersaksi dalam kasus tertentu?  Wartawan juga harus mencatat “bagaimana” cara nara sumber  menyampaikan pernyataan itu?  Apakah nara sumber menyampaikan hal itu sambil marah-marah, santai sambil becanda, atau dengan roman muka tegang sambil celingukan?

Selain itu, yang tak kalah penting, wartawan harus mampu mengungkapkan “mengapa” nara sumber menyampaikan pernyataan seperti itu.  Artinya di sini, wartawan harus mampu mengungkapkan latar belakang mengapa nara sumber menyampaikan pernyataan tersebut. Apakah dia menyampaikan pernyataan itu karena didesak oleh wartawan, ingin menjelaskan persoalan tentang dirinya yang telah diberitakan pers, ingin mengharapkan suara masyarakat agar memilihnya, atau karena adanya hubungan dengan peristiwa masa lalu yang belum terungkap selama ini.

Mengungkapkan unsur “mengapa’ ini tidak boleh asal  tebak atau dengan cara menduga-duga, meski hal itu dilakukan berdasarkan logika.  Kadang penyebab sesungguhnya tersimpan di lubuk hati nara sumber paling dalam, sehingga memerlukan kemampuan khusus bagi wartawan untuk mengungkapkannya.

Sebagai contoh  kasus “pernyataan Benny K Harman”. Tanggal 11 Januari 2011, Ketua Komisi III DPR RI tersebut mengungkapkan, mantan Kapolri Bambang Hendarso Danuri pernah menyampaikan kepadanya: “Jika kasus mafia pajak Gayus Tambunan dibongkar akan mengguncang stabilitas politik dan ekonomi”.  Keesokan harinya Benny meralat pernyataan itu dengan mengatakan,  apa yang diucapkannya kemarin hanya tafsiran pribadinya (liputan6.com, 12 Januari 2011). Benny memang menjelaskan “mengapa” dia mengucapkan pernyataan itu dan “mengapa” pula dia meralatnya, namun apakah masyarakat percaya dengan alasan demikian?

 Menyampaikan Fakta secara Akurat

Persoalan akurasi bagi wartawan tidak hanya terbatas pada bagaimana mengumpulkan fakta secara akurat, tapi juga bagaimana fakta itu bisa disajikan secara akurat sehingga khalayak mampu memahami fakta tersebut apa adanya. Seperti diingatkan  Al Hester (1987:67),  “Journalistic writing  is writing to give the reader understanding or informaton he or she  didn’t  previously. If the reader can’t comprehend what is in your news story, then no communication has taken place. Or if  the reader gets bored, irritated or puzzled by your story, he or she will most likely go on to something else more interesting”.

Dengan demikian, bagi wartawan, menulis itu bukan hanya sekedar menulis, tapi juga mengusahakan agar tulisan tersebut dibaca dan dipahami apa adanya. Salah satu upaya yang harus dilakukan wartawan adalah mengusahakan agar berita yang disajikannya tersebut akurat.  Seperti dikemukakan Charnley & Charnley (1979:33), “Accuracy mean literally that every element in a news story, every name and date and age and address, every definitive word or phrase or sentence, is an unequivocal statement of a verifiable reality. Not only that, it mean fidelity in the general impression given by the way detail are put together and by the emphases put on them”. 

Hal senada dikemukakan Dewabrata (2004:103-104), bahwa:

Akurasi di sini meliputi juga ketepatan mengutip pernyataan sumber berita maupun data dan fakta: (a) penulisan nama berikut identitas-identitasnya sepert gelar keningratan, gelar akademis, gelar keagamaan, jabatan resmi maupun tidak resmi, agama yang dianut, sebutan (maksudnya di sini sebutan macam pengamat sosial, pelukis kontemporer, termasuk juga julukan, dan sebagainya), jenis kelamin, tanggal lahir, umur; (b) angka yang meliputi soal jumlah, urutan/nomor, ulangan beberapa kali, ukuran panjang-tinggi-lebar-isi-luas, ukuran pakaian-sepatu-dan lain-lain; (c) kelas dan mutu  untuk kapal dan barang-barang lainnya; (d) jenis kenderaan serta merknya; (e) jenis dan merk barang; (f) dan banyak lagi.

Banyak wartawan tidak menyadari hal itu, sehingga mereka  sering tidak cermat dalam memilih kata dan atau kalimat yang tepat  dalam mengungkapkan fakta.  Contohnya antara lain  terjadi dalam berita berikut:

Berita Kota, 15 November 2008 hal 4 kol 1-2
Tewas Tertabrak Kereta

JAKARTA PUSAT. Seorang pria tanpa identitas ditemukan tewas terlindas kereta api di lintasan rel  Stasiun Duku Atas, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat (14/11). Korban meregang nyawa dengan kondisi bagian kepala hancur dan usus terburai. Mayat pria malang ini kemudian dikirim ke RSCM.

Keterangan yang diperoleh, naas yang menimpa korban bermula saat dia sedang menyeberang rel di lokasi kejadian. Tanpa disadarinya, tiba-tiba datang kereta api dari arah Manggarai menuju Tanah Abang dengan kecepatan tinggi. Korban yang tak  sempat lagi menghindar akhirnya tertabrak salah satu gerbong kereta. Tubuhnya terpental sejauh 10 meter dan tewas seketika di lokasi.

Tak lama berselang, petugas yang datang ke lokasi kemudian mengirim mayat pria malang itu ke RSCM. ©ram

Berita tersebut hanya terdiri dari tiga alinea, namun  paling tidak terdapat sembilan ketidakakuratan, sebagai berikut: 1) pada judul tertulis “tewas tertabrak”, tapi di alinea satu ditulis “terlindas; 2) pada alinea satu tertulis “meregang nyawa”, tapi di alinea dua ditulis “tewas seketika”; 3) pada alinea satu tertulis “Stasiun Dukuh Atas, Tanah Abang, Jakarta Pusat”, padahal Stasiun Dukuh Atas itu tidak berada di Tanah Abang, Jakarta Pusat; 4) pada alinea satu tertulis “bagian kepala hancur”, tidak jelas di bagian yang mana?; 5) pada alinea satu tertulis “mayat … dikirim ke rumah sakit”, padahal tidak mungkin mayat itu “dikirim”; 6) pada alinea dua tertulis “keterangan yang diperoleh”, tidak jelas diperoleh dari siapa?; 7) pada alinea dua tertulis “tiba-tiba datang kereta api”, padahal  tidak mungkin kereta api datang tiba-tiba; 8) masih di alinea dua tertulis “tertabrak salah satu gerbong kereta”, padahal tidak mungkin bisa tertabrak hanya salah satu gerbong; dan 9) pada alinea tiga tertulis “petugas yang datang”, tidak jelas petugas apa?.

Penutup

Berdasarkan uraian di atas terlihat,  akurasi seharusnya menjadi faktor utama yang harus diperhatikan wartawan. Mereka harus menyadari, mendapatkan fakta akurat tidak mudah, kadang perlu upaya sungguh-sunguh untuk mendapatkannya.  Perlu cek dan ricek (check and double check), validasi, dan verifikasi terhadap fakta yang diperoleh.

Tentu tidak mungkin berharap wartawan menyajikan fakta 100% akurat. Sebagaimana dikemukakan Fleming, et al (2006:50),

No one is perfect and no news reporter can honestly say that inaccuracies have never. Crept into their work. The trick is to keep those mistakes to an absolute minimum and to aim for 100 per cent accuracy. No forget will do. If you don’t know something is true, or you have no official source to rely on, then don’t put in or,  in very rare cases, put it in but makeit clear that it is potentially inaccurate”

Namun alasan bahwa “manusia itu tidak ada yang sempurna” tidak boleh dijadikan alasan  untuk bisa menyajikan berita yang tidak akurat.  Wartawan harus mengupayakan, kalaupun ada ketidakakuratan, harus ditekan seminim mungkin, yaitu dengan cara menggali fakta secermat mungkin  lalu  disajikan seakurat mungkin.

Referensi:

Al Hester (1987), The Need to Say It  Simple, dalam Al Hester & Wai Lan J. To (Ed),  Handbook fo Third World Journalist, Henry W. Grady  School of Journalism and Mass Communication, The University of Georgia, Athens.

Charnley, Mitchell V. dan Blair Charnley (1979), Reporting, Holt, Rinehart and Winston, New York.

Dewabrata, A.M. (2004), Kalimat Jurnalistik: Panduan Mencermati Penulisan Berita, Kompas, Jakarta.

Dewan Pers (2008), Profil Dewan Pers 2007-2010, Dewan Pers, Jakarta

Flemming, Carol, et al, (2006), An Introduction to Journalism, SAGE Publication Ltd., London.

Niblock, Sarah (2005), Staying calm under pressure, dalam Richard Keeble (2005), Print Journalism: a critical introduction, Routledge, London.

www.liputan6.com

www.okezone.com

 

One thought on “Menyoal Akurasi Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *