Menyoal Generasi Instan

arje monas 254x300 - Menyoal Generasi Instan
Arje Monas

Apakah Anda tak sabar ketika menunggu antrian? Selalu membunyikan klakson saat terjebak macet di jalanan? Mengurus SIM atau KTP melalui sogokan?  Kalau tiga pertanyaan tersebut dijawab ‘iya’, maka  pasti Anda termasuk generasi instan. Suatu generasi yang tidak ingin berkeringat dalam menggapai apa yang diharapkan.

Tidak ada hasil penelitian, kapan mulai adanya generasi instan. Tapi bisa dipastikan, generasi ini muncul sejak orang lebih menghargai hasil dib anding proses.  Orang lebih menghargai gelar, jabatan basah, dan kekayaan, tanpa peduli bagaimanacara  memperolehnya. Akibatnya, jual beli gelar marak dimana-mana, sogok-menyogok  jabatan terjadi di tiap instansi, serta korupsi merajalela tak terkendali.

Jula beli gelar

Mengenai adanya jual beli gelar, saya memiliki cerita agak  lucu ketika berada di Papua. Karena tujuan saya ke sana mau menulis biografi Bupati SARMI, Eduar Fonataba, maka  harus  mewawancara juga bawahannya. Saya bertemu seorang Kepala Distrik (Camat) yang begitu antusias menyodorkan kartu nama  yang  tertulis “Dr”, singkatan Doktor.  Seketika saya pun takjub karena waktu itu belum ada Bupati maupun Gubernur di Papua yang bergelar Doktor. Namun ketika saya tanya  lulusan mana? Dia terlihat bingung, lalu bilang  wisudanya  di Jakarta – menyebut  sebuah hotel bintang lima.   Saya langsung mafhum bagaimana cara dia memperoleh gelarnya, apalagi dia mengaku tak pernah kuliah S2.

Di Jakarta waktu itu saya punya kenalan yang  mengelola franchise sebuah sekolah tinggi yang telah terakreditasi. Kenalan ini bisa menjamin, 2,5 tahun kuliah pasti memiliki gelar sarjana. Tambah satu tahun lagi bisa menyandang  gelar magister atau S2.

Sogok dan Korupsi

Persoalan sogok menyogok untuk memperoleh jabatan, bukan rahasia lagi di negeri ini. Istilahnya, tidak mungkin jabatan bisa diraih tanpa disesajeni. Kita juga mengenal adanya istilah ‘money politik’  untuk jabatan di partai dan organisasi. Bahkan partai dan politisi rela  melakukan “serangan fajar” demi meraih kursi.

Begitu juga  soal korupsi, negara harus membentuk badan adhoc  bernama Komisi Pemberantasan  Korupsi.  Saya sendiri memiliki pengetahuan tentang  adanya  kegiatan korupsi.  Ketika menjadi konsultan perusahaan teman, saya berurusan dengan perusahaan bernama IM. Perusahaan ini tidak jelas aset dan manajemennya, tapi bisa memenangkan tender proyek ratusan miliah dari  Pertamina Hulu Energy ONWJ. Saya pernah melaporkan hal ini ke  Vice President Investigasi Pertamina, tapi nampaknya dia tak punya gigi.

Semua lini

Penganut paham generasi instan terdapat di semua lini.  Di masyarakat awam pun,  kita sering mendengar adanya orang bersedia  menjadi budak setan demi  mendapatkan uang.   Juga adanya perempuan yang demi uang  bersedia menjual badan.   Generasi instan seperti ini akan terus berkembang  selama masyarakat lebih menghargai materi dibandingkan harga diri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *