Jenis Feature

Arje Soeta 150x150 - Jenis Feature
Feature

Sebagai penulis karangan kreatif atau  karangan khas, paling tidak ada enam jenis feature yang perlu kita pelajari cara penulisannya,  yaitu: Feature Berita,  Feature Profil, Feature Perjalanan,  Feature Sejarah,  Feature How To Do It, dan Feature Human Interest.

 Feature Berita

Meski jenis feature ini namanya Feature Berita, namun  tidak bisa digolongkan sebagai berita.  Meski informasi yang dimuat merupakan bagian dari fakta berita, namun penyajian feature berita  tidak sama dengan penyajian berita.

Penulisan berita selalu dimulai dari unsur fakta yang paling penting  – fakta yang berpotensi mempunyai dampak pada kehidupan sosial atau ekonomi khalayak,  sedangkan feature berita  dimulai dari unsur fakta yang menarik,  fakta yang berpotensi untuk membangkitkan emosi khalayak (marah, sedih, gemas, dongkol, dan sebagainya).

Berita mencatat semua yang dilihat dan didengar sebagaimana yang tampak dipermukaan, sedangkan feature berita berusaha menggali bagian fakta yang menarik yang mengandung unsur human interest. Misalnya dalam meliput sidang paripurna DPR, penulis feature mencatat bagaimana tingkah laku anggota DPR dalam mengikuti sidang tersebut: ada yang mengantuk, terima telepon, becanda, dan sebagainya.

Kita bisa melihat jelas perbedaan berita dan feature berita pada informasi yang dimuat media tentang gempa dan tsunami yang terjadi di Palu dan Donggala kemarin. Kalau berita selalu mengabarkan secara up to date seputar tentang jumlah korban jiwa dan kerugian harta benda akibat bencana alam tersebut. Setiap saat masyarakat disuguhkan dengan laporan tentang jumlah korban tewas yang terus bertambah dan berbagai dampak lain akibat gempa. Sedangkan pada feature berita  berusaha menggali fakta lain di balik fakta tersebut, utamanya fakta yang mengandung nilai human interest yang tinggi.

Contoh feature berita dapat dilihat pada tulisan yang saya kutip dari tempo.co tentang kisah pria yang kehilangan 12 keluarganya akibat tsunami yang menerjang wilayah Palu dan Donggala tersebut.  Feature yang ditulis  oleh reporter Syafiul Hadi tersebut  sangat menggugah rasa manusiawi pembaca.

TEMPO.CO, Jakarta – Tsunami Palu menyapu Pantai Talise yang tengah ramai dikunjungi karena ada festival Pesona Palu Nomoni 3. Acara yang dihadiri banyak warga Palu itu berganti jadi kedukaan mendalam setelah gempa Donggala berkekuatan M 7,4 skala richter yang disusul tsunami Palu.

Salah satu yang berduka adalah Fandy, seorang warga Palu. Ia berkisah keluarganya yang berjumlah 12 orang keluarga dan kerabatnya hilang pasca tsunami Palu itu.

Saat ditemui petang tadi, Fandy masih sibuk mencari keluarganya itu.
Dengan sepeda motor, dia berkeliling ke sekitar tumpukan rongsokan bangunan bercampur tanaman yang tersapu gelombang tsunami kemarin, di Pantai Talise, Palu, Sulawesi Tengah.

“Sudah cek, sudah bongkar, pasang lagi bongkar lagi, tetap tak ada,” ujar Fandi getir di Palu, Sabtu, 29 September 2018. Fandy menuturkan ada 12 orang keluarganya yang menjadi korban sapuan gelombang tsunami. Mulai dari orang tuanya hingga kerabatnya. “Ada mace, sepupu, orang tua, kakak adiknya bapak juga,” katanya.

Fandy berharap dapat menemukan keluarganya yang diduga ikut tersapu Tsunami Palu pada Jumat, 28 September 2018. Fandi bercerita, sebelum gempa dan tsunami, dirinya sedang menjadi juru parkir di sekitar Pantai Talise. Saat itu, di daerah itu sedang ada festival Pesona Palu Nomoni yang membuat warga berkunjung ke Pantai Talise. “Waktu kemarin itu, mamak saya menjual pisang goreng di acara, jadi keluarga semua pada bantu,” katanya.

Saat tsunami menerjang, Fandy menuturkan, dia sudah tak berada di lokasi. Dia berkata harus pulang untuk mengurusi anaknya yang sedang berada di rumah. Ketika kembali ke lokasi, ia sudah melihat air menyapu daratan. “Saya lihat air sudah di sini, bekejar sudah air itu,” ucapnya dengan mata yang merah.

Feature Profil

Sesuai namanya, jenis feature ini memuat tentang profil orang-orang yang menarik, misalnya orang yang sukses dalam menjalankan kehidupan: sukses dalam bisnis, karier, dan sebagainya. Biasanya mereka yang diprofilkan karena memiliki perjalanan hidup ataupun pandangan hidup yang layak jadi teladan.

Orang yang diprofilkan bisa saja orang biasa yang selama ini luput dari pemberitaan pers, misalnya para pejuang lingkungan yang selama berpuluh tahun hidup di hutan hanya untuk menjaga agar salah satu spesis satwa tidak punah.

Feature profil bisa hanya berupa cerita singkat tentang satu aspek kehidupan yang sedang dijalani sang tokoh. Namun  bisa juga merupakan uraian lengkap tentang tokoh, termasuk gambaran tentang fisik, riwayat hidup, pendikan,  pekerjaan, karier, serta pandangan hidup tokoh tersebut.

Dalam tulisan feature profil bisa juga ditampilkan pendapat orang-orang yang pernah dekat dengan tokoh.

jika Anda berkenan membuka blog saya: https://abdurrahmanjemat.com, bisa lihat tulisan saya tentang Saleh Siregar. Profil seorang dosen yang sangat saya hormati. Tulisan tersebut sebenarnya sudah per nah dimuat di Tabloid Mutiara,

Contoh lain  sebagaimana  saya temukan di  kompas.com,  ternyata tulisan feature profil bisa juga untuk tulisan advertorial.

Feature Perjalanan

Jenis feature ini  menceritakan tentang perjalanan mengunjungi lokasi wisata yang menarik. Feature ini memuat informasi tentang bagaimana cara menuju ke lokasi dan apa saja kendala yang mungkin ditemui serta bagaimana mengatasinya. Juga diceritakan  apa saja yang menarik  untuk ditemui  atau dikunjungi. Apa saja yang harus dilakukan  sepanjang perjalanan ke lokasi dan selama berada di lokasi.

Wisata yang bisa diprofilkan bisa mencakup semua jenis wisata, yaitu wisata alam, budaya, religius, kuliner, termasuk kunjungan ke lokasi perusahaan.

Menulis feature perjalanan berarti menceritakan kembali seluruh pengalaman   selama perjalanan yang disajikan secara menarik, sehingga pembaca memperoleh informasi lengkap tentang objek wisata tersebut sebelum dia mendatangi lokasi tersebut.

Kita bisa mencerita satu lokasi secara agak mendetail, tapi bisa juga menggambarkan lokasi wisata yang kita rekomendasikan. Misalnya saya pernah menulis di Majalah PADU dengan judul “Menikmati Lombok”.  Di sana saya  menceritakan lokasi  wisata yang tak boleh dilewatkan bagi mereka yang mengunjungi Pulau Lombok.

Mencari contoh feature perjalanan tidak sulit. Misalnya, kalau kita mengunjungi www.kompas.com,  di sana ada folder khusus “travel”.

Feature Sejarah

Jenis feature ini  biasanya ditulis untuk memperingati hari-hari bersejarah,  seperti proklamasi kemerdekaan, pemboman Hiroshima, dan sebagainya, atau  peringatan 100 tahun meninggalnya seorang tokoh.

Kisah feature sejarah kadang ditulis karena adanya peristiwa mutakhir yang menarik perhatian khalayak. Misalnya ketika terjadi musibah meletusnya  gunung berapi, maka koran sering memuat peristiwa serupa di masa lalu.

Contoh feature sejarah:

Melihat Kembali Gempa Lombok 2018 dan Sejarah Kegempaannya

ZULFAKRIZA Z Kompas.com – 23/09/2018, 11:32 WIB

GEMPA Lombok 2018 merupakan fenomena yang langka dan menarik untuk dipahami perilakunya. Pola seismisitas yang naik turun memberikan kepanikan dan kebingungan, terutama masyarakat yang bermukim di Lombok, Bali dan Sumbawa.

Setidaknya ada enam kejadian gempa bumi yang memiliki magnitudo lebih dari 5,5. Gempa bumi magnitudo 6,4 yang terjadi pada 29 Juli 2018 merupakan awal dari rangkaian Gempa Lombok 2018.

Secara mekanisme kejadiannya, gempa ini dipicu oleh adanya aktivitas sesar naik di utara Lombok. Berdasarkan laporan awal BNPB pada 30 Juli 2018, gempa bumi ini mengakibatkan korban jiwa 16 orang dan lebih dari 10.000 bangunan rusak. Sedangkan BMKG mencatat, setidaknya ada 585 kejadian gempa susulan sampai dengan pukul 07.00, 5 Agustus 2018. Pukul 18.46 WIB, gempa bumi magnitudo 6,9 pada kedalaman hiposenter 34 km kembali menghantam Lombok bagian utara.

Secara kekuatan, gempa kedua ini lebih besar dari gempa yang pertama. Baca juga: Fakta Terbaru Gempa Lombok, Pengungsi Terserang Malaria hingga Kerugian Rp 10,15 T Tentunya kejadian ini memperbanyak jumlah korban jiwa dan memperparah kerusakan bangunan di Lombok, Bali, dan sebagian di Sumbawa bagian barat. Berselang empat hari setelah gempa kedua, tepatnya pada 9 Agustus 2018 pukul 12.25 WIB, gempa dengan kekuatan 5,9 kembali terjadi. Posisi gempa ketiga lebih ke barat dan berbeda dengan gempa pertama dan kedua yang saling berdekatan di bagian utara Lombok.

Sekitar 10 hari setelah gempa ketiga tepatnya 19 Agustus 2018, kita kembali dikejutkan dengan dua gempa dengan kekuatan lebih besar dari magnitudo 6,0 terjadi di Lombok yang posisi gempanya lebih ke timur. Kedua gempa tersebut memiliki magnitudo 6,3 terjadi pada pukul 11.10 WIB dengan kedalaman hiposenter 7,9 km dan magnitudo 7,0 terjadi pada pukul 21.56 WIB dengan kedalaman hiposenter 25 km.

Pada 25 Agustus 2018, gempa magnitudo 5,5 terjadi di timur Lombok atau lebih tepatnya di Sumbawa bagian barat. Gempa ini bisa dikatakan gempa ke-6 dari rangkaian Gempa Lombok yang magnitudonya lebih dari 5,5. Disamping gempa-gempa yang kekuatannya relatif lebih kecil, BMKG mencatat gempa-gempa susulan yang terjadi di Lombok baik yang dirasakan maupun tidak adalah lebih dari 2000 kejadian.

Sebaran gempa yang terjadi di Lombok (Zulfakriza) Gambar 1. Sebaran gempa yang terjadi di Lombok, enam gempa besar ditandai dengan lingkaran hitam kombinasi biru yang memberi informasi mekanisme fokus sesar naik. Sedangakan lingkaran merah adalah sebaran gempa susulan yang terjadi mulai tanggal 29 Juli – 10 September 2018. Data mekanisme fokus dan hiposenter gempa diperoleh dari katalog USGS.

Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), secara keseluruhan kerusakan yang diakibatkan oleh rangkaian Gempa Lombok 2018 adalah 71.962 unit rumah rusak, 671 fasilitas pendidikan rusak, 52 unit fasilitas kesehatan, 128 unit fasilitas peribadatan dan sarana infrastruktur.

Sedangkan data korban adalah 460 orang meninggal dunia, 7.733 korban luka-luka, 417.529 orang mengungsi. Perkiraan kerugian sementara yang dilakukan oleh BNPB akibat Gempa Lombok mencapai triliunan. Angka ini belum termasuk kerugian yang diakibatkan oleh penurunan kunjungan wisatawan lokal dan manca negara.

Tektonik dan sejarah kegempaan di Lombok Kawasan Bali dan Nusa Tenggara memiliki tatanan tektonik yang rumit dan aktif. Keberadaan zona subduksi di bagian selatan yang merupakan zona tumbukan antara Lempeng Kerak Samudra Indo-Australia dengan Lempeng Benua Eurasia.

Salah satu implikasi dari adanya aktivitas tumbukan pada zona ini adalah terjadinya gempa bumi. Sedangkan di bagian utara Bali dan Nusa Tenggara, kondisi tektoniknya dipengaruhi oleh adanya aktivitas pada busur belakang Flores yang terbagi dalam dua segmen. Berdasarkan buku Peta Bahaya Gempa Indonesia 2017, kedua segmen tersebut adalah Segmen Bali dan Segmen Lombok Sumbawa. Selain dua segmen tersebut, sisi timur dan barat Lombok diimpit oleh beberapa segmen struktur tektonik.

Di barat Lombok terdapat dua segmen, yaitu Lombok North dan Lombok Central. Sedangkan di bagian timur Lombok terdapat tiga segmen, yaitu Sumbawa North, Sumbawa Central dan Sumbawa South. McCaffrey & Nabelek memaparkan tentang dinamika tektonik dan sejarah kegempaan di Bali dan Nusa Tenggara dalam makalah berjudul Earthquake, Gravity, and The Origin of The Bali Basin: An Example of a Nascent Continental Fold-and-Thrust Belt. Makalah tersebut dipublikasikan pada Journal of Geophysical Research pada tahun 1987.

Berdasarkan makalah ini, setidaknya ada tujuh kejadian gempa sejak 1963 di Bali dan Lombok dengan magnitudo yang relatif besar. Ketujuh gempa itu adalah gempa pada 18 Mei 1963, 22 Mei 1963, 2 gempa pada 14 Juli 1976, 30 Mei 1979, 20 Oktober 1979, dan 17 Desember 1979 (Gambar 2). Sebaran gempabumi pada tahun 1963, 1976 dan 1979 yang terjadi di Bali dan Lombok. (Zulfakriza) Gambar 2. Sebaran gempa bumi pada tahun 1963, 1976 dan 1979 yang terjadi di Bali dan Lombok.

Pada gambar 2 di atas, terlihat bahwa secara posisi, gempa-gempa terjadi berada di bagian barat Lombok dan utara Bali. Sedangkan untuk Lombok bagian utara cederung tidak gempa dengan magnitudo yang signifikan.

Secara pola mekanisme kejadian gempa, gempa yang terjadi pada 2018 hampir sama dengan gempa yang terjadi pada 1963, 1976, dan 1979. Mekanismenya adalah sesar naik. Hal ini memberi pemahaman bahwa gempa-gempa tersebut dipicu oleh aktivitas sesar naik yang ada di utara Bali dan Lombok.

Gempa Lombok 2018 posisinya berbeda dengan gempa 1963, 1976 dan 1979. Dan tidak tertutup kemungkinan kejadian gempa pada 1963, 1976, dan 1979 akan berulang kembali. Tentu kita tidak berharap kejadian gempa tahun 1963, 1976 dan 1979 kembali berulang. Akan tetapi kita perlu memahami bahwa gempa memiliki pola yang berulang.

Feature How To Do It

Jenis feature ini disebut juga feature kiat karena berkisah kepada pembacanya bagaimana melakukan sesuatu hal, misalnya bagaimana membeli rumah, menemukan pekerjaan, bertanam di kebun, mereparasi mobil atau mempererat tali perkawinan.

Kisah seperti ini seringkali lebih pendek ketimbang jenis feature lain dan lebih sulit dalam penulisannya. Reporter yang belum berpengalaman akan cenderung menceramahi atau mendikte pembaca — memberikan opini mereka sendiri — bukannya mewawancara sumber ahli dan memberikan advis detail dan faktual.

Feature seperti ini biasanya sangat menarik bagi khalayak kerena memuat pengetahuan praktis yang bisa diterapkannya segera. Tulisan seperti ini sering dikliping untuk disimpan dalam waktu lama. Maka bagi PRO, feature ini sering digunakan untuk menulis advertorial (iklan yang disajikan seperti tulisan jurnalistik).

Contoh feature profil, salah satunya  bisa  baca tulisan saya  https://abdurrahmanjemat.com/tips-berkeluarga-dari-kirun/

Feature Human Interest

Feature ini ditulis berdasarkan fakta yang menyentuh perasaan manusiawi seorang: gembira, sedih, simpati, haru, jengkel, benci.

Biasanya feature jenis ini menyangkut persoalan social dan kemanusiaan, misalnya tentang suka duka seorang menjalani kehidupan, ketidakberdayaan seorang menghadapi persoalan, kegembiraan memperoleh kesuksesan, dan sebagainya

Jenis feature  ini biasanya ditulis oleh seorang yang memiliki kepekaan tinggi terhadap persoalan manusia  serta memiliki pengamatan yang teliti terhadap persoalan tersebut.

Contoh salah satu jenis feature human interest  bisa dibaca pada tulisan saya  di  https://abdurrahmanjemat.com/wong-palembang/

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *