Menyoal Puisi Sukmawati

IMG 20180405 074602 150x150 - Menyoal Puisi SukmawatiMenyoal puisi Sukmawati  merupakan perspektif saya dalam memandang  puisi  yang  menuai kontroversi, yang dibacakan putri bungsu Bung Karno  pada  “29 tahun Anne Aventie Berkarya”, 30 Maret 2018.

Banyak orang menyesalkan puisi tersebut karena dianggap melecehkan agama Islam. Bahkan ada pihak yang melaporkan Sukma ke Bareskrim Polri.

Sukma sendiri sudah minta maaf dan mengatakan puisi tersebut sebagai penghormatannya kepada Ibu Pertiwi Indonesia.

Banyak orang sudah memaafkan, tapi masih ada pihak yang ingin melanjutkan hingga pengadilan. Antara lain pihak yang keukeuh menuntut Sukma adalah Solidariatas 212 dan Forum Umat Islam.

Teks puisi Sukma

Teks lengkap puisi Sukmawati tersebut sebagai berikut:

Ibu Indonesia

Aku tak tahu Syarat Islam
Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah
Lebih cantik dari cadar dirimu

Gerai tekukan rambutnya suci
Sesuci kain pembungkus ujudmu
Rasa ciptanya sangatlah beraneka
Menyatu dengan kodrat alam sekitar
Jari jemarinya berbau getah hutan
Peluh tesentuh angin laut
Lihatlah ibu Indonesia

Saat penglihatanmu semakin asing
Supaya kau dapat pengingat
Kecantikan asli dari bangsamu
Jika kau ingin menjadi cantik, sehat, berbudi, dan kreatif
Selamat datang di duniaku, bumi Ibu Indonesia

Aku tak tahu Syariat Islam
Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok
Lebih merdu dari aluran azanmu
Gemulai gerak tarinya adalah ibadah
Semurni irama puja kepada Illahi
Nafas doanya berpadu cipta

Aneh

Bagi saya bait puisi Sukamawati tersebut agak aneh. Maksudnya ingin memuji busana Ibu Indonesia, tapi dengan ucapan “aku tak tahu syariat Islam” dan “lebih cantik dari cadar dirimu”. Aneh, bilang “tak tahu syariat Islam” tapi mengaku Muslimah yang bangga dengan keislamannya.

Tidak mungkin seorang Muslimah tak tahu syariat Islam. Kalau kurang paham mungkin?  Sukma tak paham kalau cadar itu bukan untuk memamerkan kecantikan.

Sukma juga ingin memuji kidung Ibu Pertiwi,  tapi anehnya membandingkan kidung dengan suara azan. Aneh, kidung yang merupakan lagu merdu sebagai wujud berkesenian, dibandingkan dengan suara merdu azan yang dikhususkan sebagai panggilan sholat.

Menurut saya,  jika ingin memuji budaya Indonesia tidak perlu menuding agama tertentu.

Contohnya: Aku tak tahu budaya Barat/ Tak tahu budaya Timur/ Juga tak tahu budaya Arab/ Yang kutahu hanya ajaran ibuku/ Ibu Indonesia// Sari konde ibuku sangat indah/ Lebih Indah dari busana Barat, Timur, bahkan Arab//

Aku tak tahu irama reggae/ Tak tahu musik cadas/ Bahkan tak tahu tetabuan rebana/ Yang kutahu hanya suara kidung Indonesia/ Sangat elok dan mempesona/ Lebih merdu dari alunan nyanyian orang sana//

Apakah pantas dihukum?

Bagi saya puisi itu sama seperti lagu.  Sebuah ungkapan fikiran dan perasaan yang disajikan dalam bentuk karya seni. Meski karya tersebut penuh sindiran, fungsi utamanya  adalah sebagai hiburan.  

Para penghibur kadang memangagak  berlebihan, sehingga  memancing ketersinggungan. Maka penghibur perlu juga diingatkan agar tak kebablasan.

Lalu apa pantas penghibur dipenjarakan? Terserah saja kalau ada yang ingin memperkarakan. Tapi bagi saya, permohonan maaf sudah cukup sebagai pengakuan kekhilafan. Kasus ini mengingatkan kita agar lebih hati-hati menggunakan kata agar tak tersandung kasus hukum karena kata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *