Merokok Hingga Tua

Merokok 150x150 - Merokok Hingga Tua
Kakek Tabranih

Merokok hingga tua, begitu kesan saya ketika bertemu Kakek Tabranih di Kopaja jurusan Tanah Abang, Jakarta Pusat  – Ciledug, Kebayoran Lama.  Istilah  “merokok hingga tua” mengandung pengertian ganda, yaitu “karena merokok bisa berusia tua” atau “merokok terus sampai tua”.  Soalnya sepanjang perjalanan, di selah bibir kakek kelahiran 1932 ini selalu terselip rokok yang sedang menyala.

Kakek Tabranih tidak ingat kapan mulai merokok, “Pokoknya masih muda banget dan sejak itu tidak pernah berhenti”, ujarnya.  Dia bercerita, masa mudanya dihabiskan dengan bekerja di kapal yang menjelajah nusantara. Semua orang yang bekerja di kapal  itu adalah  perokok, termasuk dia. Sampai sekarang, paling tidak  dia masih menghabiskan sebungkus rokok sehari.

Sendiri

Meski usianya sudah tergolong senja, Kakek Tabranih selalu terlihat  jalan sendiri.  Mengenakan baju koko, celana batik, sandal jepit, dan bertopi putih, dia menjelajah ibu kota.   “Saya memang ke mana-mana sendiri”, ujarnya.

Kakek Tabranih menceritakan, sejak istrinya meninggal dunia 19 tahun lalu, dia hidup sendiri. Ketiga anaknya sudah berkeluarga dan tinggal di rumah mereka sendiri. “Bosan di rumah!” katanya. Maka  setiap hari, kadang pagi dan kadang sore, dia selalu pergi. “Paling ke rumah adik, lalu balik lagi”, jelasnya.

Untungnya, di usia sudah mencapai 86 tahun, Kakek Tabranih belum  merasakan adanya penyakit berat di dirinya.    Dia masih mampu melakukan semua aktivitas sendiri, termasuk belanja ke warung membeli rokok sendiri.

Tak tahu menjelaskannya

Bertemu Kakek Tabranih saya mulai  “meragukan”  pendapat orang yang mengatakan bahwa merokok memperpendek usia.  Namun saya tak tahu bagaimana menjelaskannya. “Mungkin karena  merokok begitu lama,  paru-paru si  kakek  itu jadi awet”, komentar canda teman ketika melihat foto sang kakek di ponsel saya.  Maksudnya, seperti daging sapi yang diasapi  jadi  awet.  Persoalannya daging sapi itu beda dengan paruparu manusia.

Saya juga punya penjelasan secara becanda, bahwa merokok tidak lebih berbahaya dibanding handphone (ponsel). Saya belum pernah mendengar apalagi melihat ada orang  merokok ditabrak kereta. Tapi sering membaca, bahkan pernah melihat dengan mata kepala sendiri ada orang sedang main handphone ditabrak kereta.

Meski begitu,  rokok bukanlah kesukaan saya. Di samping harganya yang makin mahal, juga rasanya tidak enak. Kalau enak, tentu  asapnya tidak mungkin dihembuskan ke tetangga, pastilah ditelan semua!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *