Merumuskan Pertanyaan Wawancara

Wawancara 150x150 - Merumuskan Pertanyaan Wawancara

Pertanyaan wawancara sangat menentukan kualitas hasil wawancara, sehingga harus dirancang sedemikian rupa agar mampu menjaring informasi yang diinginkan.  Sebagaimana  dikemukakan Stewart L. Tubbs dan Sylvia Mess (1996),  bahwa setiap pewawancara harus mampu membimbing arah percakapan melalui serangkaian pertanyaan. Dengan demikian, faktor pertanyaan menjadi bagian paling penting dari suatu kegiatan wawancara.

Dalam menyusun pertanyaan, sebaiknya memperhatikan nasehat Herbert Strenz,   bahwa dalam wawancara bukan terletak pada pertanyaan dan bagaimana pertanyaan itu diajukan, tapi apakah dengan cara itu Anda bisa mendapatkan informasi yang bernilai untuk khalayak

 

Harus diperhatikan dalam merumuskan pertanyaan
  • Kenali dan pahami subjek sebaik mungkin dan pelajari objek secermat mungkin
  • Susun pertanyaan sebanyak mungkin lalu urutkan mulai dari yang paling penting
  • Baca sekali lagi rumusan pertanyaan satu persatu lalu perbaiki susunan kata yang masih belum sempurna
  • Kalimat pertanyaan hendaklah to the point. Misalnya: “Menurut Anda, apakah kasus suap melibatkan Rio Capella bisa merusak kredibilitas Partai Nasdem? Bukan: “Apakah kasus penyelewengan bantuan sosial di Sumatera Utara yang melibatkan Rio Capelle akan berdampak pada Partai  Nasdem?”
  • Hindari pertanyaan hipotetis, misalnya: “Jika klien Anda ternyata benar terlibat dalam perampokan ini, apakah Anda akan  menuntut klien Anda tersebut?” Sebaiknya: “Apa yang akan Anda lakukan jika ternyata klien Anda memang terlibat pada perampokan itu?”
  • Hindari pertanyaan argumentatif, misalnya: “Saya pikir pendapat Anda sangat bertentangan dengan fakta yang ditemukan Polisi. Apakah mungkin ada sesuatu yang Anda sembunyikan dari publik?”  Sebaiknya: “Bagaimana pendapat Anda tentang fakta yang ditemukan polisi ……?”

Sebelum  pertanyaan diajukan perlu juga memperhatikan nasehat Herbert Strenz, yaitu: 1) dengan bertanya Anda menunjukkan siapa diri Anda, sehingga bisa  menimbulkan kesan bahwa Anda adalah: si Bodoh, si Pengganggu, si PendengarBuruk, atau si Cerdas, dan 2) dengan bertanya mungkin  tak sengaja merusak hubungan dengan sumber,  apalagi jika pertanyaan Anda membuat dia terpojok dan serba salah.

Bentuk Pertanyaan

Pertama,  pertanyaan tertutup,  mengarahkan responden pada jawaban yang telah disediakan. Misalnya; “Apakah Anda setuju dengan  tindakan Menteri KKP, Susi Pujiastuti yang tetap ingin menenggelamkan kapal illegal fishing?”

Pertanyaan tertutup bisa juga dirancang dalam bentuk menggiring, misalnya:

  • Setujukah Anda terhadap hukuman mati terhadap bandar narkoba?
  • Apakah Anda juga setuju dengan pendapat teman Anda di DPR, bahwa Setya Novanto harus mundur dari Ketua DPR?
  • Kapan terakhir Anda mengunjungi tempat perjudian di Kelapa Gading?
  • Sependapatkah Anda dengan pendapat  yang mengatakan  tindakan Polisi mengusut kasus Firda Husen  berlebihan?
  • Adakah keinginan Anda untuk berhenti dari pekerjaan seperti ini? (misalnya sebagai PSK)
  • Biasanya pada kondisi bagaimana Anda tidak bisa meninggalkan rokok?
  • Percayakah Anda dengan pernyataan tersangka yang mengatakan,  tidak berada di lokasi perampokan?

Kedua, pertanyaan terbuka,  yang memungkinkan responden menyusun rumusan jawaban sendiri. Misalnya: “Bagaimana pendapat Anda tentang  hasil kunjungan Presiden ke Pakistan?” Pertanyaan ini juga bisa dimulai dengan pertanyaan primer:   “Kapan Anda mengenal Setya Novanto?” Lalu dilanjutkan dengan pertanyaan menyelidik: “Seberapa dekat hubungan Anda dengan Setya Novanto?” Bagaimana Anda bisa bersama Novanto ketika  kecelakaan?”  Menurut Anda, bagaimana  Novanto  bisa lolos dari kejaran KPK?”

Pertanyaan terbuka bisa juga dirumuskan sebagai pertanyaan netral ,misalnya:

  • Bagaimana sikap Anda terhadap tuduhan makar yang ditujukan kepada  para tokoh 212?”
  • Ceritakan bagaimana pengalaman Anda bergaul di tengah masyarakat Badui?
  • Mengapa Anda tidak terlihat berada di antara anggota serikat pekerja ketika mereka menuntut kenaikan upah?
  • Bagaimana tanggapan Anda terhadap keputusan hakim yang menolak praperadilan Fredrich Yunadi?
  • Apa dasar pertimbangan dari partai Anda berubah menjadi pendukung pemerintah?
  • Mengapa Anda menolak ajakan kolega Anda untuk mendirikan perusahaan garmen di Indonesia?

Bentuk pertanyaan yang tidak dianjurkan adalah pertanyaan yang membebani (loaded quention), yaitu pertanyaan yang direkayasa dan telah mengisyaratkan jawaban, misalnya:  “Bukankah Anda telah sering menjelaskan, akan melakukan hal ini tapi sampai saat ini belum pernah dilaksanakan?” dan “Mengapa Anda bisa bebas sedangkan semua anggota organisasi Anda berstatus tersangka?”

Sumber bacaan:
  1. Saelan, Ahmad,Reporting dan Teknik Wawancara, Majalah Pers Indonesia No. 18 tahun ke V, April 1975.
  2. Strenz, Herbert, Reporter dan Sumber Berita, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1993
  3. Tubbs, Stewart L., dan Mess, Silvia,Human Communication: Konteks-konteks Komunikasi, terj. Deddy Mulyana, Remaja Rosdakarya, Bandung, 1998

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *