Penistaan dan Ujaran Kebencian

IMG 20180129 093443 150x150 - Penistaan dan Ujaran Kebencian
Arje

Kasus penistaan agama yang  menyeret Ahok ke penjara seyogyanya menyadarkan  kita agar hati-hati  menggunakan kata.  Namun selama 2017 kasus penghinaan dan pencemaran nama baik melalui media siber masih dominan. (sila baca).  Padahal  sembarangan menggunakan kata di media siber bisa terjerat  UU ITE. Bisa kena  tuduhan melakukan ujaran kebencian.  Maka kasus ujaran kebencian begitu menonjol di tahun 2017. (sila baca)

Kata penistaan, merujuk KBBI berarti penghinaan. Adanya perkataan (tentu bisa juga tulisan) yang menyebabkan orang lain atau kelompok merasa terhina.  Namun akibat hukum dari penghinaan dan penistaan sangat berbeda.   Penghinaan terhadap perorangan diatur dalam Pasal 315 KUHP dengan  ancaman hukuman empat tahun dua bulan. Sedangkan kasus penistaan diatur dalam pasal 156 dan 156a dengan ancaman hukuman hingga lima tahun penjara.

Kasus penghinaan maupun penistaan ini  termasuk delik aduan, sehingga apapun yang diucapkan, sejauh tidak menyebabkan ada orang atau kelompok merasa terhina, bukan termasuk sebagai  penghinaan. Sebalinya, meski  menyampaikan pujian, tapi pujian itu  membuat orang atau kelompok  lain merasa terhina,  bisa digolongkan sebagai penghinaan.   Jadi kalau ada yang  bilang: Bang Arje ganteng! Bisa saya golongkan sebagai penghinaan bahkan penistaan (hahaha).

Beda penghinaan dan ujaran kebencian

Ketentuan tentang ujaran kebencian  diatur dalam  UU ITE  pasal 28. Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA).  Ancaman pidana terhadap pelaku ujaran kebencian paling lama enam tahun.

Pada  kasus ujaran kebencian tidak memerlukan adanya pengaduan. Polisi bisa menangkap  pelaku meski tanpa ada  pengaduan. Bahkan secara khusus  Mabes Polri sudah membentuk unit khusus yang tugasnya berpatroli di dunia maya, memantau setiap ujaran kebencian yang disampaikan melalui internet (read).

Persoalan kita sekarang berada di dunia tanpa sekat. Meski bicara  di ruang terbatas,  perbicaraan  tersebut bisa seketika bablas beredar  tanpa batas. Meski masyarakat yang mendengar langsung tidak keberatan,  tapi bisa jadi omongan kita dipersoalkan oleh mereka yang (hanya) menonton melalui rekaman. Apalagi bagi mereka yang  sengaja merekam dan mengedarkan ujaran kebencian, siap-siaplah berurusan dengan aparat kepolisian.

Maka saya menyarankan berhati-hati mengeluarkan ujaran dan tulisan, agar tak terjerat kasus hukum akibat perkataan. Meski lida tak bertulang,  usahakan mengendalikannya agar tidak mengeluarkan hinaan dan ujaran kebencian.  Apalagi mengeluarkan perasaan  kebencian yang timbulnya  hanya karena  perbedaan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *