Menghindari Penyakit Fikiran

IMG 20180204 024804 300x300 - Menghindari Penyakit Fikiran
arje-camphulucai

Merujuk pada  sebuah artikel kesehatan  dalam forumdetik.com (read),  90% penyakit berasal dari fikiran dan jiwa negatif,  maka pantas  kalau  semua rumah sakit  penuh kelebihan pasien.  Bagaimana tidak,  kalau banyak orang sengaja mencari penyakit? Banyak orang sekarang memikirkan sesuatu yang sebenarnya bukan persoalan.  Coba perhatikan di berbagai grup WhatsApp, banyak orang sibuk menghabiskan waktu untuk perdebatan. Mereka men-share berbagai tulisan yang memancing  pertengkaran  sehingga menimbulkan  fikiran dan jiwa negatif.

Ironisnya pertengkaran tersebut  terjadi dalam grup pertemanan dan persaudaraan. Grup yang khusus dibuat untuk mempererat hubungan pertemanan dan persaudaraan, yang seharusnya hanya digunakan untuk saling  berbagi kesenangan. Seyogyanya grup seperti ini  digunakan untuk menjalin silaturrahim antar teman, antar saudara, dan antar kenalan.

Namun kadang gara-gara share tulisan tak tepat sasaran, grup  jadi kehilangan candaan dan membosankan. Bahkan kadang akibat tulisan yang tak relevan tersebut, grup berubah jadi ajang pertengkaran dan hujatan yang  tak berkesudahan. Ujungnya grup ini justru jadi perusak hubungan pertemanan dan persaudaraan.

Katanya Untuk sharing

Kalau ditanya mengapa men-share tulisan demikian?  Mereka berargumen untuk sharing dan bahan renungan. Anehnya sharing-nya dilakukan sambil ngotot-ngototan memaksa kebenaran.  Sharing tersebut  bukannya jadi renungan,  tapi  pemicu emosi dan ketersinggungan. Bahkan bisa membakar amarah dan membangkitkan dendam.  Semua itu akan mengganggu jiwa dan fikiran karena ujungnya merusak hubungan pertemanan dan persaudaraan.

Sharing mencerahkan fikiran

Sharing bukanlah tabu dalam grup perteman, tapi seyogyanya tentang hal yang mencerahkan jiwa dan fikiran. Boleh saja ada diskusi dalam grup persaudaran, tapi seyogyanya diskusi dengan nawaitu  menemukan kebenaran. Diskusi yang bukan untuk mencari kalah dan menang, karena di akhir diskusi tidak ada yang merasa kalah maupun menang. Semuanya  sama-sama menemukan kebenaran.

Tapi diskusi mencari kebenaran hanya bisa dilakukan dengan semangat pertemanan atau persaudaraan. Tidak mungkin bisa dilakukan dengan politisi yang hanya mengutamakan kepentingan. Nawaitu dalam diskusi politik bukan untuk mencari kebenaran, tapi semata untuk menggolkan kepentingan. Bagi orang politik, ngotot-ngototan  wajar dilakukan,  asalkan kudu menang.

Memang tak ada  yang salah dengan diskusi politik, tapi seyogyanya bukan dalam grup pertemanan dan persaudaraan. Masa demi menang-menangan, sesama teman harus ngotot-ngototan? Juga masa sesama saudara tega saling hujat-hujatan?

Lalu untuk apa menang, jika harus kehilangan teman dan putus tali persaudaraan? Buat apa  ada diskusi-diskusian,  jika akhirnya merusak jiwa dan  fikiran?

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *