Plesetan Singkatan

16583589 1745418479106712 2456746143992774656 n 150x150 - Plesetan Singkatan
Arje = Abdurrahman Jelek

Plesetan singkatan jamak terjadi di negara yang banyak menggunakan singkatan seperti Indonesia.  Maka harus hati-hati jika ingin menggunakan singkatan, karena bisa saja singkatan yang digunakan untuk tujuan positif, diplesetkan jadi negatif. Contoh GWS, sejatinya singkatan tersebut dari bahasa Inggris, Get Well Soon yang bermakna doa baik,  semoga cepat sembuh. Tapi singkatan GWS bisa diplesetkan dalam bahasa Sunda, Geura Wafat Sia, yaitu sumpah “cepat mati kau!” Sedangkan singkatan Bispak yang bermakna negatif, bisa pakai alias pelacur, bagi orang Tegal berarti  “bisa ngapak”, bisa bahasa Tegal.

Umumnya singkatan digunakan untuk memendekkan nama  orang, instansi, daerah, undang-undang, dan lain-lain agar mudah diingat. Contohnya Aburizal Bakrie (ARB), Sumatera Utara (Sumut),  Undang-Undang Dasar  (UUD), Sekretaris Wilayah Daerah (Sekwilda), Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA). Namun singkatan tersebut tak lepas dari plesetan. Misalnya  ARB = Anak Rawa Buaya,  SUMUT = semua urusan musti uang tunai, UUD = ujung-ujungnya duit, Sekwilda = sekitar wilayah dada, STIA = sekolah tidak ijazah ada.

Singkatan di Indonesia

Di Indonesia, penggunaan singkatan  paling banyak dipopulerkan oleh  Ir Soekarno. bahkan beberapa singkatan yang diciptakan oleh Preseiden RI petama tersebut jadi sangat terkenal. Contohnya:  berdikari (berdiri di atas kaki sendiri), manipol (manifestasi politik), nekolim (neo kolonialisme), nasakom (nasionalis, agama, dan komunis), taviv (tahun vivire vericoloso, ampera (amanat penderitaan rakyat), dan banyak lagi. Konon nama anak pertamanya,  GUNTUR,  singkatan dari ‘Gunakan Tenagamu Untuk Rakyat’.

Sekarang para pelajar  pun telah  sangat mahir membuat singkatan. Utama singkatan untuk nama sekolah maupun tempat nongkrong mereka. Contohnya: SMU Sesat (Sejahterah Satu),  SMU Maut (Manggarai Utara), SMU Kasar (Kartika Sari), Stadela (Stasiun Depok Lama), Amigos (agak minggir got sedikit), Pijay (Slipi Jaya), Jepang (Jembatan Mampang), Amerika (Anak Merdeka Kalisari, dan sebagainya.

Kelemahan Singkatan

Kelemahan singkata adalah  tidak ada hak cipta atau  hak paten,  sehingga bisa digunakan siapa saja dan untuk keperluan apa saja. Contohnya TPI,  bisa untuk: Televisi Pendidikan Indonesia,  Team Pembela Islam, atau Tempat Pelelangan Ikan.   PIN, bisa   Pusat Informasi Nasional atau Pekan Imunisasi Nasional.  TPS, bisa jadi Tempat Pemilihan Suara, tapi bisa juga Tempat Pembuangan Semestara.

Singkatan juga  sangat rawan digunakan untuk plesetan. Contoh:  KUHP (Kasih Uang Habis Perkara), UPH (Universitas Pengeruk Harta),  UMB (Universitas Mangga Besar),  IKJ (Institut Kelainan Jiwa), Arje (Abdurrahman Jelek), ponsel (telepon selingkuh).  Begitu juga WTS (Wartawan Tanpa Suratkabar), PKK (Perempuan Kurang Kerjaan),  IWAPI (Ikatan Wanita Penggoda Iman), PSK (Pedagang Sate Kiloan), BNN (Bandar Narkoba Nasional),  dan sebagainya.

PKS

Singkatan paling banyak diplesetkan masyarakat adalah PKS, terutama  ketika  Presiden Partai Keadilan Sejahtera,  Luthfi Hasan Ishaac  terlibat kasus suap impor daging sapi. Bahkan plesetan  tambah marak setelah Anis Matta dan petinggi PKS lainnya  menuduh ada konspirasi besar melibatkan Zionis ingin menghancurkan PKS.

Plesetan tersebut ditulis melalui spanduk, komentar pada berita media,  dan melalui akun jejaring sosial. Contoh plesetan PKS, antara lain:  Partai Korupsi Sapi, Partai Kaum Serakah, Pingsan Keseruduk Sapi,  Partai Korup Sekali, Parte Kok Sapi, Puyeng Ketendang Sapi. Bahkan ada yang memplesetkan ke arah tidak senonoh (tidak pantas ditulis di sini).  Saking  liarnya plesetan mengenai PKS, maka Ketua DPP PKS, Sohibul Iman secara khusus menghimbau masyarakat agar jangan mengolok-olok nama PKS.

Hati-hati

Belajar dari  pengalaman PKS, seyogyanya  berhati-hati menjaga diri dan pernyataan agar tak memancing masyarakat  membuat plesetan singkatan.   Apalagi kita tahu masyarakat Indonesia paling kreatif membuat plesetan singkatan. Bahkan nama orang pun tak luput dari sasaran plesetan. Contohnya,  Harmoko  diplesetkan jadi “hari-hari omong kosong”.

3 thoughts on “Plesetan Singkatan

  1. lauw sit tamara says:

    Bagus….bagus pak, lanjut terus tulisannya, meski tetap sibuk dgn kerja baru jadi MC (Momong Cucu) menulis jalan terussssss

  2. Sejak dilaksanakan Sidang Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) “mengadili” Setya Novanto, Ketua DPR RI atas pengaduan Menteri ESDM, Sudirman Said, awal Desember 2015, beredar berbagai plesetan singkatan tentang MKD, antara lain: Membela Kelakuan Dewan, Malunya Kok Di sini, Mahkamah Konco Dewe, Masa Kawan Disidang? Makin Kiamat DPR, Mau Komisi Dong, Mau Kelonan Dulu, Masukangin Kebanyakan Duit, Masa Kakak Diadili? Mahkamah Kayak Dagelan, Marah Karena Direkam.

    Plesetan tersebut muncul setelah melihat kelakuan tiga anggota MKD yang baru ditunjuk oleh Partai Golkar: Ridwan Bae, Kahar Muzakir, dan Adies Kadir. Tiga serangkai ini berusaha bermanuver ingin membatalkan sidang karena menganggap perbuatan Machroef Sjamsudin, Presdir PT Freeport Indonesia merekam pembicaraan antara Setya Novanto, Reza Chalid, dan Machroef Sjamsudin merupakan perbuatan ilegal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *