Mencegah Dampak Pornografi di Dunia Maya

Pornografi di dunia maya bagai laron di musim hujan. Patah tumbuh hilang berganti, diblokir satu tumbuh seratus ribu. Maka ketika teman mengeluh, anaknya yang baru usia 11 sudah terpapar pornografi, saya hanya tertawa.  Bagi saya,  sekarang  internet dan segala kontennya sudah keniscayaan. Hanya dengan memahami cara positif berinternet ria, si anak atau siapapun akan terhindar dari ekses negatifnya.

Semua tersedia di Internet

Sebagai  perpustakaan raksasa (giant library),  internet menyediakan semua  informasi yang diinginkan.  Maka wajar banyak orang beranggapan, pengakses internet  bisa cepat pintar. Namun  internet  menyediakan informasi positif dan juga negatif.  Bahkan tidak jarang, situs yang menyediakan informasi positif sekaligus memuat hal-hal negatif.  Konten ilmiah kadang tercampur juga dengan  cerita, gambar, bahkan video mesum.

Coba ketik kata “porno” di google, akan muncul 248.000.000 tulisan dan gambar berkaitan dengan kata itu. Tentu tidak semua tulisan dan gambar tersebut negatif, tapi  semuanya berkaitan dengan pernyataan atau kegiatan  pornografi.

pornografi rimanews 300x221 - Mencegah Dampak Pornografi di Dunia Maya
Pornografi – rimanews

Apalagi faktanya, situs yang mengandung konten porno bisa mendulang pengunjung jauh lebih banyak dibanding situs lain. Maka banyak orang tergoda membuat situs mesum untuk menggaet uang dari iklan.

Menurut berbagai sumber,  lebih dari 24,5 juta situs menyediakan konten porno. Ironisnya, situs porno tumbuh lebih satu juta setahun dan  sekitar  satu juta situs mesum berasal dari Indonesia.

Sekitar 2,5 miliar email tiap hari berisi konten pornografi. Situs-porno memiliki porsi 30% dalam lalu lintas data internet di seluruh dunia. Parahnya lagi, nama situs porno tersebut biasanya dibuat mirip dengan situs terkenal. Misalnya  booble yang mirip google.

Hanya kata kunci

Sebagai perpustakaan maya, akses ke informasi di internet hanya menggunakan kata kunci (key word).   Sering   kata kunci  yang diketikkan  justru diarahkan oleh  mesin pencari (search engine) ke penyedia konten porno. Maka tidak heran,  jika 34% pengguna internet  membuka gambar atau adegan mesum secara tak sengaja.

Fakta berikut menunjukkan betapa konten porno sangat digemari. 35% pengguna internet mengunduh konten porno.  Indonesia selalu berada di peringkat lima besar pengakses situs porno, rata-rata pertama kali mengakses situs porno  di usia  11 tahun. Sekitar 97,2% siswa Indonesia pernah mengakses situs mesum.

Perlu dicegah

Berdasarkan pendapat para ahli, dampak  mengakses situs porno bisa menyebabkan kerusakan otak, terjerat seks bebas, menghapus nilai pernikahan, dan menjadi pelupa.   Upaya pencehan pun sudah dilakukan Depkominfo  dengan memblokir situs porno. Namun hanya  mampu memblokir sekitar  2% dari 30 juta situs yang ada.

Maka perlu peran orang tua dalam  mencegah anaknya mengakses situs porno. Antara lain dengan mendorong mereka melakukan aktivitas positif, mendalami agama, dan selektif dalam bergaul. Juga agar bijak berinternet dan bila perlu memblok konten porno.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *