Polisi, Tiga Watak Dalam Satu Kepala

IMG 20180129 093629 150x150 - Polisi, Tiga Watak Dalam Satu Kepala
arje

Tugas berat yang diemban polisi menuntut mereka harus memiliki tiga  watak dalam satu kepala. Demikian dikemukan Jenderal Polisi Drs. Chaeruddin Ismail ketika berbincang dengan penulis di rumahnya  hampir dua darsa lalu.  Pendapat tokoh yang dikenal sebagai intelektual  polri tersebut masih relevan untuk  memahami  tingkah polisi masa kini. 

Menurut  Jenderal polisi yang pernah diangkat sebagai Kapolri oleh Presiden Abdurrahman Wahid  itu, tiga watak  yang dimaksud adalah:  watak sebagai pengatur ketertiban, watak sebagai pembasmi kejahatan, dan watak sebagai penindak pembangkang. Ketiga watak tersebut harus mampu diperankan oleh setiap korp Bhayangkara sesuai tantangan tugas di lapangan

Watak pengatur ketertiban

Polisi harus menyadari, dalam mengatur ketertiban akan berhadapan dengan rakyat yang pada umumnya orang baik. Rakyat yang melanggar aturan itu biasanya hanya kurang sabaran.  Maka ketika bertugas  mengatur ketertiban, polisi harus menampilkan watak yang humanis sesuai budaya rakyat. Dia harus mampu menyadarkan para pelanggar aturan itu agar kembali menjadi orang baik.

Watak  pembasmi kejahatan
Operasi patuh 150x150 - Polisi, Tiga Watak Dalam Satu Kepala
Operasi Patuh

Sebagai pembasmi kejahatan, polisi harus  menyadari bahwa penjahat  memiliki empat tingkatan. Mereka yang dikategorikan Penjahat,  biasanya masih di level kejahatan ringan. Lebih tinggi dari itu disebut Bajingan. Lebih tinggi lagi disebut Setan. Paling tinggi adalah Iblis.

Banyak penjahat sangat sulit diidentifikasi hanya dari penampilan. Bahkan mereka mampu melakukan tipuan kelas tinggi, sehingga  kerugian dan kerusakan yang ditimbulkannya cukup besar. Maka polisi yang bertugas membasmi kejahatan,  harus mempunyai watak yang mampu memainkan tipuan yang disebut siasat.

Watak penindak pembangkang

Sebagai penindak pembangkang, polisi  harus menyadari bahwa para pembangkang mampu menghilangkan nyawa orang. Bahkan bisa menghabisi nyawa polisi yang sedang betugas di lapangan. Maka ketika bertugas menghadapi pembangkang,  polisi harus menampilkan watak yang  mampu menghilangkan nyawa. Polisi boleh menembak mati pembangkang , sejauh bisa dipertanggungjawabkan. Yaitu harus sesuai prosedur tetap (protap) yang sudah ditentukan.

Harus sesuai tantangan

Meski ada pembagian tugas yang tegas antara polisi sebagai pengatur ketertiban, pembasmi kejahanan, dan penindak pembangkang, tapi bukan berarti polisi hanya fokus pada tugas tersebut. Bisa saja seorang polisi yang bertugas  sebagai pengatur ketertiban, tiba-tiba harus berhadapan dengan penjahat, bahkan  pembangkang.

Repotnya, tiga watak tersebut berada dalam satu kepala. Kadang ada  polisi yang salah menerapkan. Dia yang seharusnya mengatur ketertiban, memperlakukan pelanggar sebagai pembangkang. Dor!

Maka setiap polisi harus hati-hati dalam menampilkan ketiga watak tersebut agar benar-benar sesuai tantangan tugas di lapangan.

Juga baik sekali bila polisi mampu menerapkan  ketiga watak tersebut untuk mencegah terjadinya pelanggaran dan kejahatan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *