U-lama, U-baru, dan Ulama Palsu

Entah ingin menguji atau sekedar mau tahu, seorang teman WA  saya menanyakan apa yang dimaksud dengan Ulama. Dia juga bertanya tentang Ulama palsu. Saya mencoba menjelaskan seperti KBBI, bahwa ulama itu tokoh dalam agama Islam yang mempunyai pengetahuan luas tentang keislaman. Ulama adalah orang yang memiliki ilmu yang luas tentang Islam.

IMG 20170625 074246 150x150 - U-lama, U-baru, dan Ulama Palsu
Ulama Palsu

“Apa mungkin ada ulama palsu?” tanyanya mengejutkan saya.
“Ya, mungkin saja!” jawab saya sekenanya. “Jangankan ulama, nabi aja ada yang palsu!”
“Bagaimana membedakan ulama asli dan yang  palsu?” desaknya.

Saya menangkap ada hal ganjil dalam pertanyaan tersebut. Apalagi sekarang sedang terjadi “perang” pendapat antar ulama dan antar orang yang mengaku ulama.  Saya menduga, penjelasan saya  akan dijadikan jastifikasi untuk mengelompokkan para ulama.

 “Aduh kalau soal itu, maaf saya gak bisa menjelaskan. Saya gak tahu!” jawab saya tegas.

U lama dan U baru

Saya sengaja tidak menjawab pertanyaan tersebut karena tidak memiliki kompetensi.  Juga sengaja menghindar agar tak  masuk dalam kontroversi  tentang ulama. Apalagi sekarang masih marak tuduhan adanya penistaan ulama. Bahkan Presiden pun dituduh telah menistakan ulama (read). Maka saya berusaha mengalih percakapan agar tidak ditanya lebih dalam tentang hal itu lagi.

“Paling saya bisa membedakan antara ‘U’ lama dan ‘U’ baru”, goda saya disertai gambar “emoticon” senyum tiga kali. Dalam hati ingin dia mengerti kalau saya berusaha menghindari.

“Bagaimana?” tanyanya serius. Alhamdulillah dia terpancing pengalihan saya.

“Ya,  kalau U yang lama, lambangnya “oe”,  seperti digunakan pada nama Soekarno, Moediono,  dan Ali Moechtar Hoeta Soehoet. Sedangkan U yang  baru seperti pada nama Gus Dur,  Yusuf Mansyur,  dan  Sumartono.

Dia mengirim emoticon lambang tertawa sebanyak tujuh kali. “Bisa aja Abang ini!” ujarnya disertai gambar “emoticon” menutup mata  dan telapak tangan dirapatkan. “Semoga Abangku selalu sehat”, uajarnya menutup pembicaraan.

Alhamdulillah kami bisa menutup pembicaraan tanpa beban. Sang teman tidak lagi melanjutkan pertanyaannya tentang ulama. Saya  pun tak perlu memberi contoh tentang ulama palsu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *