Wisuda dan Resepsi Pernikahan

IMG 20171005 130636 150x150 - Wisuda dan Resepsi PernikahanSebenarnya tidak ada hubungan antara wisuda dan resepsi pernikahan. Kalaupun ada, karena wisuda sering dijadikan alasan menunda pernikahan. Wisuda juga sering  dijadikan titik tolak serius menjalin kesepakatan menuju jenjang  pernikahan.

Esensinya, wisuda sama saja dengan resepsi pernikahan. Keduanya hanya merupakan acara serimonial untuk mengumumkan keberhasilan.  Namun bagi banyak orang, wisuda dan resepsi pernikahan  sangat dispesialkan. Mereka memerlukan adanya kehebohan pada saat menjelang dan hari pelaksanaan, sehingga harus adanya kemewahan.  Bagi mereka, makin meriah acara kian memberi kebanggaan.

Padahal resepsi pernikahan tidak berdampak pada sahnya perkawinan. Begitu juga dengan wisuda, kemewahan wisuda tidak berdampak pada gelar kesarjanaan. Perkawinan sah setelah ijab qabul atau ikrar perkawinan  usai dilaksanakan. Perkawinan tersebut tetap sah meski tanpa resepsi pernikahan. Begitu juga gelar kesarjanaan. Mahasiswa sah menyandang gelar sarjana jika  semua matakuliah sudah lulus ujian. Dia  tetap berhak bergelar sarjana meski  acara wisuda tidak diselenggarakan.

Lalu apakah wisuda perlu kemewahan?

Wisuda EU 150x150 - Wisuda dan Resepsi PernikahanTergantung keinginan dan kemampuan mereka yang menyelenggarakan.  Seperti halnya  perkawinan, ada yang cukup mengundang  tetangga, kerabat, dan handai tolan. Tapi banyak  juga yang menyenggarakan pesta meriah  dengan biaya miliaran.

Wisuda juga begitu. Ada perguruan tinggi yang wisudanya sederhana. Contohnya IISIP Jakarta yang  merasa cukup menyelenggarakan wisuda di  Kampus Tercinta. Wisudawan mengenakan batik dan  wisudawati mengenakan kebaya. Senat Akademika dan para undangan,  cucup berbatik ria tanpa toga.

Begitu juga yang  disaksikan di Balai Pendidikan dan Pelatihan Penerbangan (BP3) Banyuwangi. Sekolah pilot tersebut  melaksanakan wisuda menggunakan  Adat Using, adat  masyarakat Banyuwangi.

Namun banyak  perguruan tinggi menyelenggarakan wisuda cukup mewah, lengkap dengan segala atribut  dan serimonial meriah. Contohnya Universitas Esa Unggul. Berapa tahun terakhir, perguruan tinggi swasta terkenal di Jakarta Barat tersebut  melaksanakan wisuda di Hotel Pulman,  Central Park, sebuah hotel bintang lima.

Mewah tak salah

Sebenarnya  tidak ada yang salah dengan kemewahan, asalkan wisudawan tidak keberatan.  Toh acara tersebut untuk  mengukir kenangan mendalam.  Faktanya, banyak juga keluarga wisudawan merasa  kurang afdol  bila Pernikahan puteri Presiden 150x150 - Wisuda dan Resepsi Pernikahananaknya tidak diwisuda. Mereka sanggup membayar mahal demi merasakan meriahnya acara ketika anaknya mengenakan toga kebesaran.

Atribut toga memang penuh dengan perlambang. Jubah hitam menandakan bahwa  wisudawan telah keluar dari dunia kegelapan. Mereka sudahn cukup bekal untuk menyongsong masa depan. Topi persegi melambangkan  mereka tidak akan menggunakan kacamata kuda dalam melihat persoalan.  Sebagai sarjana, mereka akan memandang persoalan dari berbagai sudut pandang dan mengkajinya secara mendalam. Lalu  pemindahan tali topi dari kiri ke kanan melambangkan mereka  harus memaksimalkan penggunaan otak kanan. Lebih banyak menggunakan soft skill dibanding hard skill untuk mencapai  kesuksesan.

Namun  perlu diingat,  meriahnya acara wisuda bukan jaminan keberhasilan dalam kehidupan. Sama seperti meriahnya pesta  pernikahan,  bukan jaminan langgengnya perkawinan. Ketika usai acara wisuda sama dengan kala berakhirnya pesta pernikahan. Sama-sama harus kembali ke tengah masyarakat untuk menjalani kehidupan. Masyarakat  tak peduli lagi pada acara yang pernah diselenggarakan. Mereka hanya peduli dan menghargai kontribusi yang disumbangkan.